Jumat, 11 Januari 2013

Cari Teman BBM

Cari Teman BBM
Cari teman bbm, Wanita  mencari teman surhat lewat chating dan bbm-an di situs pertemanan ini, tiga minggu lalu, lelaki itu mendapat sebuah kabar yang melegakan. Winati menuntut cerai, karena sang suami ketahuan selingkuh. Kini, lorong hampa yang dulu sempat me-nambatkan rasa getir membuat lelaki itu kian kukuh memeluk kenangan. Setangkup cinta yang dulu sempat menggumpal dalam kata, lalu pelan-pelan me-ngisi ruang kosong. Seperti ke-sejukan malam yang merambat pelan, menggetarkan, lelaki itu serasa melayang.

Dan, lelaki itu ingin mencari teman kencan baru, malam pun segera berlalu...
"KUPIKIR, kamu benar! Mes-tinya, aku tidak menikah dengan orang yang tak setia sehingga tidak terjadi percera-ian...," desah Winati, seraya memandang jalanan ketika du-duk berdua dengan lelaki itu di sebuah kafe. Mobil dan motor melintas serupa kilasan. Dan siang itu, kafe tempat Winati membuat janji bertemu dengan lelaki itu sungguh tak lagi mem-bentangkan aroma yang puitis. Tampak asing dan ganjil.

Tetapi, sosok lelaki yang ada di hadapan Winati hanya mendesah, memandang Winati dengan sorot kelabu. Terik men-tari menjadikan pertemuan ke-dua anak manusia yang dulu sempat menjadi kekasih sehi-dup semati itu, perlahan-lahan mulai menjelma serupa rente-tan kenangan yang tak akan pernah menjadi kekal dan abadi.

"Tidak ada yang perlu dise-sali, aku pikir kamu masih me-miliki masa depan," ujar lelaki itu, "Juga tak ada yang perlu ditakuti. Kau sudah menyela-matkan hidupmu..."

Winati menunduk merasa bersalah berada di hadapan lelaki itu. Tak hanya siang itu, tetapi sejak empat bulan lalu ketika ia memutuskan menikah dengan orang lain. Dan orang lain itu, tragisnya kemudian selingkuh sehingga Winati menuntut cerai. Selebihnya, Winati diam. Lelaki itu diam. Tapi gema dering yang tertahan dalam tas Winati, tiba-tiba membuyarkan suasana.

Winati membuka tas, meraih ponselnya lantas beranjak dari kursi, menjauhi teman lelaki itu yang sedang duduk di hadapannya dengan diliputi ketegangan. Lelaki itu, menatap Winati dengan gugup ditingkupi jengah sebab Winati menerima telepon dengan pelan. Sesaat kemudian, Winati mematikan handphone, kembali duduk di hadapan teman lelaki itu dengan wajah yang sudah berubah merah, dicekam takut.

"Kamu tahu, aku ini masih dalam masalah! Tapi, aku berharap kau tak keberatan menerima teleponku," suara Winati datar dan dingin, "Kini aku harus pulang. Pengacara suamiku sudah menungguku di rumah!"

1 komentar:

Poskan Komentar